Cerpen: Juru Selamat


Cerpen pertama yang saya kirimkan di kompas, namun gagal karena karakter yang di butuhkan di kompas sebanyak 12.000 dan cerpen saya ini 14.333 karakter. Tapi setidaknya semoga menjadi hiburan bagi yang membacanya.

Sejenak kepala ini kutengadahkan  menjulang ke atas melihat malam pekat. Sebuah noda putih, bulat besar penuh bentuknya memancarkan sinar yang paling aku benci. Melukai kegelapan yang tak pernah memihakku.
“Andai aku menemui ajalku, engkaulah yang pertama kali kumintai pertanggung jawaban.”
Sumpah ini pula sebagai do’a makan yang tak pernah aku lalaikan sebelum memulainya. Angkuh rasanya diri ini melihat dia hanya bisa terpejam. Sedikitpun tidak tampak senyum ramah selain diam terpaku, kedinginan mungkin atau menahan rasa pedih akan siksaan. Tapi itu semua tidak akan merusak selera makanku, menyelesaikan santap untuk sekian malam-malam yang telah berlalu. Membiarkan rasa dan aromanya tetap pekat dalam rongga dan dinding mulut. Agaknya sama dengan kebiasaan orang-orang kaya dengan hidangan pembuka, inti, hingga pencuci mulut. Merampungkan secepat yang aku bisa dan lantas pergi. Tapi mendadak bulan menghilang, gelap menyelimuti, dan terasa tubuhku perlahan lenyap.
Kembali cahaya itu mulai berpendar jauh lebih terang dari sinar bulan tadi, dan semakin dekat. Suaranya melolong memanggilku, menggaung bersaut-saut. Seketika sudah dekat, aku terperanjat. Puluhan jumlahnya, satu persatu menjabat erat tanganku, berterima kasih dengan kosakata yang tak pernah aku kenal. Memelukku dengan erat. Berangsur satu persatu lenyap. Tersenyum beraturan. Dan, gelap kembali.
“Bangsat...!” sambil terperanjat bangun.
“Mimpi itu datang lagi hari ini.”
“Hoaamhh..,” mimpi yang berulang itu, tak akan sanggup membeli kantukku. Kembali beringsut dalam selimut kesendirian yang selalu hangat menemaniku.

&&&

“Apakah saudara terdakwa tahu apa yang saudara lakukan salah, dan melanggar hukum?” suaranya tegas, walau di keluarkan dari mulut kecil ayu itu, nyaris tanpa emosi.
“Kalau memang melanggar hukum. Itu pendapat yang mulia. Tapi apa yang saya lakukan menurut saya tidak salah,” jawabku enteng.
“Sudah berapa lama saudara melakukan hal tersebut?”
“6 bulan terakhir ini.”
“Apakah saudara selalu berpindah-pindah tempat atau lokasi?”
“Tentunya.”
“Apakah saudara pernah menyesal melakukan hal tersebut?”
Kalau jarum pendek jam dinding yang terletak pas di depanku menunjukkan angka 11, berarti sudah 2 jam aku duduk di kursi pesakitan ini. Ruang ini panas dan pengap. Bukan karena sempit atau tanpa sirkulasi udara, tapi puluhan manusia hampir ratusan jumlahnya menyembulkan dengusan panas penuh murka, menderu dari tungku kemarahan, dan setiap melihat wajahku, bak bahan bakar yang menyulutnya, nafasnya semakin membara. Tak ada keramaian dari mulut mereka selain umpatan dan hina’an lewat nafasnya yang begitu gaduh. Pantatku sudah tak kuasa menahan gelembung udara hanya gara-gara menahan kentut, yang jangan-jangan bisa dianggap melecehkan persidangan. Kakiku juga mulai kram, untuk membuat simpul sebagai lambang penghormatan. Keringat panas juga tak pernah kuseka dari awal, biar mereka tahu arti sebuah perjuangan. Semua tak sebanding dengan otakku, yang sudah hampir kering dari darah, karena selama 2 jam ini pula, aku harus menerangkan hal yang sama, beribu-ribu kali malah.
Hukum di negeraku memang tidak pandang bulu, malah terkesan mengada-ngada, hanya karena mencuri makanan untuk santap malamku, aku ditangkap, dicerca ribuan pertanyaan interogasi untuk memaksaku mengakui kesalahan, dikurung pada tempat sempit agar segera jera, dibawa kepersidangan diadili ratusan orang. Mungkin karena dikiranya aku gila, dibawalah aku pada psikiater, dan sempat jadi artis dadakan. Puluhan headline media cetak memasang beritaku di halaman utama, belum lagi media elektonik yang sering menampilkan sisi manisnya senyumku, khas rasa dan aroma malam itu. Karena pada malam itu,
“Saudara terdakwa..!”
“Apakah Saudara pernah menyesal melakukan hal tersebut?”
“Saudara terdakwa!! Saudara terdakwa!!” nadanya semakin tinggi, dan aku baru tersadar. Dasar, padahal aku ingin bernostalgia dengan malam-malamku.
“Tidak yang mulia, malah aku bangga melakukannya.”
“Apa maksud saudara?” tanyanya penuh selidik.
“Apakah yang mulia pernah berpikir?” segera aku ingin menggurui orang bodoh di depanku ini.
“Dengan saya memakan tubuh-tubuh mereka, mereka pun akan lolos dihari penimbangan amal buruk dan baik, dihari akhir nanti. Di hari dimana tubuh-tubuh itu akan bersaksi, apa saja yang telah dilakukannya seumur hidup bersama majikannya. Mata yang harusnya bersaksi karena telah di gunakan untuk melihat hal-hal yang maksiat penuh nafsu dan dosa, telah saya jadikan makanan pembuka. Selaiknya juga lidah mereka yang suka berkata kotor, menggunjing, bersilat lidah dengan kebohongan. Telinga mereka yang lebih sering digunakan sebagai pendengar hal bathil dan hal-hal yang dapat membahayakan orang lain, yang pura-pura tuli atas lolongan pedih saudaranya. Saya telah menyelamatkan mereka, karena semua perangkat tubuh yang harusnya bersaksi untuk memberatkan tuduhan keburukan-keburukan di dunia, sekarang telah tiada, lenyap. Harusnya mereka berterimakasih,” aku melihatnya menelan ludah dalam-dalam.
“Hati, yang selama ini tak pernah iba dengan sesamanya, menjadi tungku atas olah pikiran yang menghasilkan perbuatan-perbuatan biadab, bebal akan rasa kemanusiaan, saya jadikan makanan inti. Lantas kaki dan tangan sebagai media eksekusi akhir tranformasi atas buah pikirannya, sebagai pengantar menuju tujuan perbuatan yang merugi itu saya jadikan makanan penutup. Lengkap sudah semua, dan mereka akan selamat dari kesaksian tubuh-tubuh mereka, yang selama hidupnya digunakan untuk perbuatan yang tercela.”
“Bagaimanapun yang saudara lakukan adalah perbuatan kanibalisme, dan perbuatan itu melanggar hukum,”
“Apa yang salah ketika apa yang saya makan itu adalah mayat manusia, mayat yang teronggok tidak dipedulikan, tidak berharga, bangkai lagi. Mereka juga tidak keberatan bukan? dan tidak ada yang merasa dirugikan.”
“Malah mereka yang sudah saya makan yang mulia, semalam menghampiri saya dalam mimpi untuk berjabat tangan, berpeluk erat, memberikan selamat dan terima kasih tak terhingga karena telah melakukan itu. Karena hanya sayalah yang peduli dengan mereka, menyelamatkan mereka ungkapnya.”
“Cukup, tolong saudara terdakwa jangan mengigau atau mengarang hal-hal yang di luar batas kewajaran.” Matanya mengisyaratkan, sudah gila betul orang ini memang.
“Lhow.., saya ini berkata sejujur-jujurnya lho.”
“Sidang ditunda, sampai besok.” Suara tiga kali ketok palu menyambutnya.
Aku digelandang oleh 2 petugas dari pengadilan setelah aku menyalami orang-orang berpakaian aneh didepanku. Sedikit risih melihatnya, seolah-olah mereka tidak sudi menjabat tanganku ini. Sebelum melewati pintu keluar ruang pengadilan, aku mencuri pandang. Nafasnya sudah mereda ketimbang tadi, namun menyuguhkan adegan pantomim raut antagonis. Ada yang menampakkan wajah marahnya, merah. Giginya sepertinya ingin mengunyahku. Ada yang melotot, hampir keluar dari kelopaknya. Ada yang bawa pentungan, dipukulkan pada telapak tangannya. Ada yang komat-kamit mulutnya seperti membaca mantra. Tapi lebih banyak dari itu, mimiknya berubah, mereka memberikan senyuman ramah, persis seperti mayat-mayat itu melepas kepergianku saat datang dalam mimpiku. Aku kembali membalas senyuman mereka.

&&&

Inilah malam yang selama ini aku tunggu. Kegelapan yang sempurna. Bulan di atas sana berusaha mengintipku dengan cahaya lamat-lamat, mencoba menertawaiku, tapi tak kuasa dengan jendela yang teramat kecil dengan sekat menjulang kebawah. Sayang, malam purnama kali ini harus aku lewatkan begitu saja dalam ruang pengap ini. Tak seperti purnama sebelumnya, wanginya bunga kamboja, sekarang berubah menjadi wangi tubuh 7 hari lamanya tak terjamah air.
“Punya api bung?”
“Hm..”
“Punya api?” suaranya keluar dari samping balik jeruji pas disampingku, seperti aku kenal. Sering terdengar di acara-acara besar, dan diperdengarkan dari wawancara radio lokal.
“Kau ada rokok?” aku pun tak mau memberikan secara cuma-cuma.
Tangannya mencari celah dari sekat-sekat jeruji besi, mencoba memberikanku sebatang rokok. Aku mencarinya dari kegelapan, merogoh tangannya. Bergantian sekarang aku menjulurkan ke arah selnya, korek api ku nyalakan. Seketika aku menyalakan korek api, sekian detik pembakaran itu memberikan cukup cahaya untuk mengenali lebih jauh dari wajahnya, ya tak salah lagi, aku mengenalnya. Kusulut rokok pemberiannya, namun aku berhati-hati agar wajahnya tak terlihat lagi, tapi setiap isapan rokok itu terbakar, wajahnya berpendar kembali. Ku yakinkan lagi, dia salah seorang pejabat teras tertinggi di daerahku. Petruk namanya.
“Kenapa kau bisa di sini?” mencoba mengawali pembicaraan. Karena sekarang aku senasib dengannya, tak penting aku harus memanggilnya pak atau memberikan hormat yang berlebih.
“Korupsi.”
“Bangsat, beraninya kau keluarkan kata-kata itu di depanku” ujarku dalam hati. Aku paling benci dengan koruptor, mereka pembunuh berdarah dingin.
“Wuah, boleh juga, pasti kamu orang kaya, ceritakan padaku kisah kesuksesanmu itu!” aku mencoba berpura-pura manis di depannya.
Inilah etika penjara, siapapun tak ada beda dalam luas, suhu, kelembapan, fasilitas, makanan dalam sel. Haram hukumnya memberikan hormat berlebih. Dan kita harus jujur menceritakan kesalahan kita pada orang lain, kalo perlu ceritakan kesalahanmu seheroik mungkin, layaknya penjahat kelas kakap dunia. Karena di penjara mengenal strata tahanan. Mulai dari mencuri seonggok ranting kayu kering hingga mencuri gelondongan pohon kayu ribuan kubik jumlahnya. Semakin berat kesalahannya, semakin pula ketenarannya. Untung aku tidak mau menggolongkan kedalam strata apapun,  karena dari katerogi yang ada, satupun aku tak punya.
“Aku tidak terlalu dapat uang banyak dari peluang pertama ini,” kepulan asap rokoknya memberikan keseriusan di wajahnya.
“Dana pemerintah untuk membantu anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama yang kurang mampu mengenyam bangku sekolah, aku potong sekian persen, dan distribusinya juga aku batasi. Dari situ aku meraup puluhan juta rupiah tiap bulannya.”
Bejat, menggadaikan masa depan bangsa? Dengan apa yang dilakukannya, niscaya ribuan anak jumlahnya akan putus sekolah. Mereka akan berhenti belajar, berhenti untuk baca dan menulis, berhenti untuk menggapai cita-cita, berhenti untuk mengharumkan nama negeri. Dia mencoba membunuh perlahan-lahan embrio bangsa dan menghancuran masa depan negara. Mana berani aku melakukan hal yang seperti itu, korbanku saja tak pernah ada mayat anak usia sekolah.
“Lha kalo ini lumayan lebih besar dapatnya. BLTH yang biasa disebut Bantuan Langsung Tunai Habis dari pemerintah untuk membantu warga-warga miskin, sekian persennya aku potong, ya... dengan dalih agar proses pencairannya cepat”
Dalam masa yang sulit seperti ini, orang-orang miskin yang bergantung hidup dengan belas kasihan, masih saja hatinya tak pernah iba. Mencekik kehidupan yang nyaris mati suri, dengan cara yang sadis. Membunuhnya perlahan-lahan lewat derita kehidupan. Aku tak sampai hati melakukannya.
 “Ini penghasilanku yang melimpah ruah. Dengan sedikit modal sogokan kepada aparat setempat, ratusan ribu kubik pohon dari hutan sebelah ku tebang, ku jual dengan harga selangit.”
Ini sudah tidak termaafkan bagiku, bayangkan kalau ratusan ribu kubik pohon itu sudah tidak menjadi penyeimbang kehidupan. Hewan-hewan hutan mulai kehilangan ekosistem dan terancam. Banjir yang tak terelakkan lagi akan merugikan ratusan ribu lebih jiwa manusia. Belum lagi mereka yang hidup di daerah lereng harus rela, barter hidup dengan tanah yang terancam longsor.
Aku mengangguk-angguk setia, menghipnotisku agar percaya. Pejabat seperti dia memang moralis dalam retorika tapi atheis dalam politik.
“Oh.., iyaw. Kamu sendiri kenapa bisa di sini?
“Hakim menyebutku kanibal mayat.” menimpalinya dengan malas.
“Jagal,” simpulnya dengan enteng.

&&&

“Sekali lagi, apakah saudara menyesal dengan apa yang telah saudara perbuat?”
“Tidak, yang mulia.”
“Apakah saudara tahu, saudara akan terancam maksimal hukuman mati?”
“Saya tidak pernah menginginkan itu, saya tidak bersalah”
“Saudara pasti tahu, saudara soemanto yang terlibat seperti saudara dalam kasus kanibalisme, mendapat vonis hukuman mati. Dan hal yang seperti itu bisa dijatuhkan pada saudara”
“Yang mulia, apa yang telah dilakukan oleh senior jauh saya itu, selaras dengan perjuangan saya. Malah dialah sang inspirator bagi saya. Selain kita menjadi penyelamat, mayat-mayat yang tak berguna itu akan habis kami makan sehingga lahan-lahan kosong akan kembali, dan manusia-manusia tak harus berjubel memaksakan diri untuk hidup di tanah-tanah perkuburan hanya gara-gara tak sanggup membeli lahan, bukankah jumlah mayat berkorelasi dengan kepadatan.”
Sidang terakhir hari ini begitu sepi sekali. Sedih rasanya, tapi tak lama menjadi  gembira ketika ada kabar angin memberitakan semua keluarga mayat itu telah ikhlas, entah ikhlas karena aku akan di hukum mati atau keluarganya sudah tenang di sana. Tapi kabar gembira itu tak lama menjadi duka, sidang vonis itu menjatuhkan hukuman mati kepadaku. Dan duka itu tak lama menjadi amarah, kabar lain menyuarakan tetangga selku semalam bebas bersyarat.
Sepanjang perjalanan menuju selku kembali, tak ada suara terompet kemenangan yang biasa dibunyikan saat kepulangan panglima seusai peperangan. Tak ada karpet merah yang tergelar menyambut torehan prestasi. Tak ada ribuan karangan bunga yang tergelar untuk memberikan aroma kebahagiaan. Hanya ada suara-suara celotehan kakang soemanto, mengejekku tanpa ampun.  Dalam marahnya aku tah habis pikir, aku yang hanya makan mayat segelintir itu saja harus menggadaikan nyawa demi nama keadilan, lantas petruk yang telah membunuh ribuan orang secara tidak langsung itu sekarang bisa melakukan sekehendak hatinya. Yang kuinjak bukan lagi karpet merah, tapi genangan-genangan ludah kakang yang serius memberikan gambaran siluet petruk sedang membagikan amplop-amplop tebal kepada orang dengan jubah misterius. Lantas bau anyir yang kupastikan bukan berasal dari bunga, semakin pekat membawa pesan kematian.

3 komentar:

Semoga setelah membacanya, berkenan meninggalkan komentar yah.., walau hanya singkat.